ILMPI WILAYAH VI

TOXIC FAMILY

PROKER BPPK DAN BANINFOKOM ILMPI WILAYAH VI AGUSTUS 2022

Keluarga merupakan sebuah bentuk sistem sosial yang terdiri atas rangkaian bagian yang sangat saling bergantung dan mempengaruhi satu sama lain baik oleh struktur internal maupun eksternal. Keluarga terdiri atas beberapa individu yang berada dalam ikatan perkawinan, keturunan, atau hubungan sedarah maupun ikatan adopsi. Keluarga umumnya tinggal bersama-sama dalam satu rumah tangga dan jika hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga sebagai rumah tempat berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lainnya dalam peran- peran sosial keluarga (Rahayu, 2014).

Keluarga yang bahagia merupakan keluarga yang dicita-citakan oleh semua orang yang menjalankan rumah tangga. Namun pada kenyataannya tak sedikit dijumpai keluarga yang diterpa masalah dan keretakan di dalamnya, sehingga tidak mudah merasakan kebahagiaan yang diinginkan. Dalam hubungan keluarga, hal yang wajar jika terjadi konflik mulai dari yang sifatnya kecil hingga besar.

Tinggal dalam lingkungan yang kurang sehat secara mental memang dapat memicu stres semua orang, tak terkecuali bagi mereka yang sudah dewasa. Lingkup inner circle yang negatif mampu membawa pengaruh yang negatif juga bagi siapapun di dalamnya. Kalau sudah begitu bagaimana caranya supaya untuk bebas dari lingkungan toxic family?

Ada banyak tindakan yang dilakukan oleh orang lain yang memiliki berdampak negatif bagi kita. Dampak yang besar ini tentu jarang disadari oleh para toxic people, sehingga mereka terus menerus melakukan perilaku negatif yang akhirnya memperburuk kondisi kesehatan mental dalam suatu lingkungan. Lantas sebenarnya, apa itu toxic family?

Toxic family adalah para anggota keluarga yang berperilaku saling

menyakiti anggota lainnya baik secara lisan maupun verbal. Cara menyikapi permasalahan keluarga bukan untuk menemukan titik terang, namun justru membuat semakin rumit. Mereka juga lebih sering mementingkan ego masing-masing. Hingga akhirnya menyakiti anggota lain dalam keluarga. Namun jika tingkat kontinuitasnya tinggi dan perilakunya semakin menyimpang hingga merugikan sesama anggota keluarga, maka dapat dikatakan bahwa perilaku  tersebut  sudah  menjadi toxic, yang akan terulang lagi dan lagi.

Ciri-ciri toxic family

  1. Tidak nyaman berada dalam rumah atau dengan anggota keluarga Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung atau ternyaman yang selalu didambakan mungkin tidak akan dirasakan ketika menghadapi situasi toxic family. Berada dalam lingkungan toxic family akan membuat siapapun tidak merasakan kenyamanan bahkan hingga perilaku menghindar
  2. Tidak saling mendukung dan lebih sering menuntut

Toxic family menjadikan kondisi keluarga tidak seimbang dan merasa tertekan akan tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh orang sekitar atau hal yang lumrah terjadi adalah kondisi dimana adanya perilaku membandingkan dengan orang lain yang dinilai lebih baik dalam hal kemampuan.

  • Menyakiti secara lisan dan verbal

Salah satu ciri dari toxic family yaitu cenderung menyakiti secara lisan hingga perilaku verbal dan kondisi tersebut biasanya menjadi kebiasaan yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar.

Anggota keluarga toxic memiliki kecenderungan bersikap tempramen dan sering mengeluarkan kata-kata yang mampu menyakiti lawan bicara. Hal itu menyebabkan tidak kondusifnya kondisi keluarga dan tidak baik bagi perkembangan anak

  • Bergosip tentang saudaranya sendiri

Keluarga toxic dapat menghabiskan waktu untuk bergosip tentang Anda dan saudara yang lain. Gosip ini sering kali bersifat jahat, yang bertujuan untuk menjatuhkan. Bersikap buruk terhadap anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya adalah biang dari kebanyakan keluarga toxic.

  • Menghambat Anda untuk berubah

Toxic family adalah keluarga yang bersifat membatasi. Jika menjalani keseharian yang sangat terbatas, sangat kecil kemungkinannya untuk berubah atau memiliki kemampuan di usia tua yang sama dengan ketika berusia 18 tahun. Dengan demikian, keluarga toxic bukanlah lingkungan yang memberikan kebaikan dan penerimaan. Jika ingin tampil beda dan berpikir terbuka dari yang diharapkan oleh anggota keluarga, mungkin akan mendapatkan ejekan dan bahkan direndahkan.

  • Saling mencari kelemahan Baik sebagai orang tua maupun anak Mengenali anggota lain di dalam keluarga dengan cukup baik untuk mengetahui bagaimana mereka bergerak, termasuk mencari kelemahan. Anggota keluarga yang toksik akan menggunakan apa yang mereka ketahui tentang kelemahan saudaranya untuk

membuat Anda merasa buruk tentang diri sendiri. Hal ini berpotensi mempermalukan Anda di depan orang lain.

  • Perilaku kasar yang diterima atau ditutupi

Pelecehan dalam satu keluarga berkisar dari pelecehan emosional hingga pelecehan fisik dan seksual. Dalam keluarga toxic, perilaku kasar adalah hal yang biasa, dan Anda mungkin dibuat merasa pantas dilecehkan. Misalnya, mungkin Anda diminta untuk bungkam tentang pelecehan tersebut untuk menjaga nama baik keluarga. Pelaku ini dilindungi dalam keluarga dan dibiarkan bebas dari perilaku yang mereka perbuat.

  • Banyak perselisihan

Keluarga toxic menjadi demikian karena suatu alasan, dan biasanya alasan ini karena orang tua. Jika orang tua memperlakukan semua anak-anaknya setara dan memberikan cinta dan kasih sayang, kecil kemungkinannya akan ada rasa iri atau cemburu pada saudara kandung. Namun, ketika anak-anak harus saling bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua dan satu anak dibuat merasa lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya, ini cenderung menimbulkan pertikaian dan persaingan.

  • Lingkungan mudah berubah dan tidak bisa diprediksi Keluarga toxic memiliki anggota yang lemah dan saling memanfaatkan. Misalnya, Anda menjadi orang favorit dalam keluarga dalam satu minggu dan minggu berikutnya mungkin

mereka mereka telah mengatakan hal-hal buruk di belakang. Dasar yang lemah ini membuat toxic family menjadi lingkungan yang mudah berubah dan tidak stabil. Kita mungkin tidak bisa tenang begitu tahu bahwa anggota keluarga mendukung kita ketika mereka kemungkinan besar akan menusuk dari belakang.

Lingkungan ini mungkin membuat kita merasa lelah, kesal, dan bingung saat berada di sekitar mereka.

Penyebab dari toxic family

Ada banyak faktor yang melandasi terjadinya hubungan toxic sesama anggota keluarga yang membuat hubungan menjadi tidak kondusif dan tidak nyaman.

  1. Terjadi Permasalahan Besar dalam Keluarga

Bisa dikatakan sebagian besar permasalahan dalam toxic family ini muncul dikarenakan adanya permasalahan yang tidak dapat dihindarkan dan membawa dampak besar bagi seluruh anggota keluarga. Beberapa contohnya seperti perceraian, musibah

besar, menurunnya keadaan ekonomi keluarga secara drastis dan lainnya.

Kondisi tersebut tentu dapat mengguncang kestabilan emosi setiap anggota keluarga, apalagi pada para toxic family. Hingga akhirnya memunculkan serangkaian permasalahan baru beserta rentetan perilaku negatif mereka.

  • Anak Memiliki Gangguan Fisik atau Sakit

Pada beberapa kondisi keluarga, terkadang penyebab timbulnya perilaku toxic ini juga dipicu oleh gangguan fisik atau penyakit yang diderita anak mereka. Jika seorang anak terlahir dengan mengidap penyakit atau disabilitas tertentu, kadang memang membuat beberapa anggota dalam keluarga sedih hingga stres.

Penyebabnya stres ini tidak jarang dikarenakan ekspektasi keluarga yang berharap anaknya menjadi sosok normal dan dapat dibanggakan. Sehingga hadirnya kondisi yang diluar kendali mereka ini dianggap sebagai musibah dan bencana yang menghancurkan  impian-impian   mereka   hingga   memicu perilaku toxic tersebut.

  • Pengaruh Etnis dan Budaya Lingkungan Tinggal

Penyebab terbesar yang masih sering ditemui dalam masyarakat sekarang yaitu adanya pengaruh dari lingkungan tinggal suatu keluarga yang memegang erat budaya yang lebih sering memicu perilaku toxic. Misalnya, di indonesia sendiri pada beberapa daerah pelosok masih kerap terjadi budaya menikah muda, sehingga jika ada satu anak dari sebuah keluarga yang telah mencapai usia rata-rata pernikahan di sana.

Misalnya, di indonesia sendiri pada beberapa daerah pelosok masih kerap terjadi budaya menikah muda, sehingga jika ada satu anak dari sebuah keluarga yang telah mencapai usia rata-rata pernikahan di sana. Tapi belum juga menikah, akan selalu digunjing atau mendapatkan tekanan sosial yang akhirnya mempengaruhi anggota keluarga tersebut. Tekanan ini akhirnya memunculkan perilaku toxic sesama anggota keluarga hingga melukai mereka secara lisan dan verbal.

Dampak Buruk Toxic family

Anak yang tumbuh dalam keluarga toxic atau disfungsional sebagian besar mendapatkan efek negatif. Anak mungkin cenderung memiliki ketidakpercayaan, kecemasan, hinaan, dan emosi negatif lainnya ketika beranjak dewasa. Dampak pola perilaku tertentu dapat dikenali pada anak dari toxic family, berikut di antaranya dampak dari toxic family :

  1. Memiliki citra diri yang buruk, dan memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang rendah.
  • kesulitan untuk membentuk hubungan dewasa yang sehat, dan pemalu atau memiliki gangguan kepribadian.
  • Prestasi akademik buruk, karena berusaha untuk berkonsentrasi dan fokus. Sering dan mudah marah, dan lebih suka menyendiri.
  • Menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri atau merusak diri sendiri. Kemungkinan menderita masalah kesehatan mental seperti depresi, memiliki pikiran untuk bunuh diri, kecemasan, paranoia, dan lainnya.
  • Kehilangan kepolosan seperti anak kecil, karena harus mengambil tanggung jawab besar pada usia dini.
  • Kurang disiplin karena minim panutan untuk diteladani saat tumbuh dewasa, dan menjadi tidak bertanggung jawab atau merusak.
  • Rentan terhadap kecanduan alkohol, obat-obatan, atau merokok.

Cara Menghadapi Toxic family

Jika memiliki latar belakang keluarga yang toxic atau jika situasi keluarga saat ini memiliki unsur-unsur toxic, ada langkah-langkah dapat membantu cara mengontrol dan mengatasi setiap situasi dalam keluarga. Berikut ini cara menghadapi keluarga yang toxic :

  1. Menetapkan batasan yang jelas. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, tetapkan batasan yang tegas dan jelas dengan meminta anggota keluarga untuk mengubah perilakunya.
  2. Jaga jarak. Salah satu cara untuk menjaga jarak secara emosional adalah dengan membatasi diri berbagi informasi pribadi pada saudara kita. Begitu juga untuk tidak merespons atau menjawab pertanyaan pribadi dari anggota keluarga.
  3. Berbicara dengan seseorang. Berbagi perasaan dengan seseorang akan sangat membantu ketika berada di dalam keluarga toksik. Selain teman, bisa berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental atau psikolog.
  4. Menjadi kreatif. Situasi yang saling bertentangan bisa membuka jalan untuk kreativitas dan ekspresi. Untuk mengatasi efek negatif keluarga toxic, ekspresikan diri secara sehat kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Berbagi pemikiran dan diskusikan bagaimana membangun kembali hubungan.
  5. Membangun hubungan dengan keluarga. Keluarga toksik secara emosional tidak stabil. Untuk membangun kembali hubungan yang rusak,

mulailah dengan mengambil langkah kecil, seperti belajar memaafkan dan mendukung keluarga.

  • Membangun kepercayaan. Meskipun tidak mudah untuk tumbuh di dalam keluarga toksik yang sulit mendapat kepercayaan. Jika memiliki orang tua atau saudara yang tidak percaya, ini kecenderungan yang akan melekat hingga dewasa. Dengan kesaaran, cobalah belajar membangun kepercayaan diantara orang-orang terdekat.

Diri kita lingkungan keluarga yang Toxic

Setiap orang berhak mendapatkan kasih sayang dan rasa hormat agar dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk orang di toxic family yaitu dengan cara :

  1. Mencoba menerima keadaan

Teori Radical acceptance menjelaskan untuk menerima hidup apa adanya dan tidak menyangkal hal yang tidak bisa diubah (Linehan, 1993). Memang sangat susah untuk menerima suatu hal yang buruk. Namun, akan lebih susah untuk tidak menerima kenyataan. Tapi hal ini tidak bisa disamaratakan dengan setiap individu, dengan mempertimbangkan individual differences.

  • Talk to someone

Untuk mempunyai kesehatan mental yang baik, setiap orang membutuhkan setidaknya satu orang yang dengannya dapat menjadi “transparan” (Jourad, 1964).

  • Memaafkan

Memaafkan berarti memilih untuk menerima keadaan apa adanya, bukan mengharapkan outcome yang lebih baik. Memaafkan dan memberikan kesempatan kedua kepada keluarga dapat memberikan ketenangan batin.

  • Set boundaries

Meskipun sudah memaafkan, ada baiknya untuk menetapkan healthy boundary. Seperti perilaku apa saja yang wajar dilakukan oleh kedua belah pihak agar tidak mengulang peristiwa yang sama. (Faubion, 2020)

  • Cari support system baru

Dalam situasi seperti ini, seseorang sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya, baik teman maupun pasangan. Hal ini juga dapat

membantu meringankan perasaan penderitaan dan kesepian. (Campbell, 2020).

Rahayu, N. S. (2014). Hubungan antara karakteristik, pengetahuan, peran dan fungsi keluarga dengan pemberian stimulasi pada anak usia toddler (1-3 tahun) di Posyandu Desa Kroya Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Purwokerto).

Talitha, T. (2021). Arti Toxic family : Ciri, Dampak, & Cara menanganinya. Gramedia Blog. Diakses pada 15 Agustus 2022. https://www.gramedia.com/best-seller/toxic-family/

Hadi, A.P., Ayu, J., Damayanti, L.K., Prithantiwi, N.G., & Ramadhina, R. (2020, December 25 th). Are You A Toxic family? Published by LM                            Psikologi                         UGM,    From https://lm.psikologi.ugm.ac.id/2020/12/fun-fact-toxic-family/

Nuramdani, M., Putrikrislia, U.P. (2021, October 22 th). Toxic family : Definisi, Ciri-Ciri, Dampak buruk, dan Cara Menghadapi, from https://doktersehat.com/psikologi/psikologi-keluarga/toxic- family/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *