ILMPI WILAYAH VI

“GENERASI Z SI PALING HEALING”

“GENERASI Z SI PALING HEALING”

A. LATAR BELAKANG
Belakangan ini, ramai trend “healing” di kalangan masyarakat, terutama di kalangan muda-mudi kini.Istilah healing tengah menjadi tren di kalangan anak muda. Banyak di antara mereka melakukan healing dengan berlibur, stay cation atau nongkrong. Anak muda kerap mengartikan healing sebagai liburan atau staycation.
Istilah “healing” pun saat ini kerap digunakan warganet untuk mengungkapkan sesuatu yang menyenangkan melalui unggahan media sosial. Pengguna sosial media tentu sangat awam dengan kata healing. Pasalnya kini kata healing banyak digunakan pengguna sosial media yang memiliki makna penyembuhan diri. Namun, apakah berlibur atau staycation merupakan cara healing yang tepat?”
Liburan, staycation atau nongkrong bisa menjadi self-healing kalau misalkan aktivitas yang dilakukannya selama liburan tersebut memang membantu yang bersangkutan untuk memulihkan dirinya dari kelelahan fisik maupun mental yang mungkin sedang dialami, “Penyembuhan diri yang dimaksudkan di sini bisa disebabkan karena beberapa hal termasuk peristiwa buruk di masa lalu. Mereka mengaku memerlukan healing saat stres. Namun, arti healing ternyata tidak sesederhana liburan.
Tekanan dan masalah yang dihadapi oleh setiap orang saat ini semakin lama semakin tidak lagi terkendali. Kaum milenial dan generasi Z adalah kelompok yang saat ini sangat rentan dengan tingkat stress yang sangat tinggi. Tuntutan pekerjaan dan tuntutan sejawat terkadang membuat kesehatan mental menjadi tidak stabil. Kalau tidak hati-hati bisa mengakibatkan gangguan mental yang cukup parah. Namun, disisi lain fenomena self-healing ini justru menjadi hal yang ramai diperbincangkan.
Berbicara tentang Gen Z & Healing akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan di sosial media. Apasih sebenarnya itu Gen Z??? Gen Z seringkali kerap diartikan dengan generasi instan, efektif, efisien yang dimana generasi sekarang memiliki tendensi untuk menyelsaikan masalah yang akan datang dan saat ini juga dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh generasi sekarang selalu mengandalkan media sosial jika menghadapi kendala seperti, untuk memesan makanan, mencari alamat, bahkan sampai membaca buku bisa melalui media eletronik.
Gen Z sama halnya dengan generasi instan yang sebanarnya memanfaatkan perkembangan era 5.0 dan disatu sisi perkembangan telkonologi sangat membantu dalam menjalani hidup lebih mandiri serta membuat kita beraktifitas lebih nyaman. Namun siapa sangka dijaman milenial segala sesuatunya membuat kita lebih memilih hal instan, tidak sabaran, cemas dan lain-lain sebagainya. Maka dari itu beredar mitos menganai solusi terbaik menyelesaikan masalah itu dengan healing, sebenarnya apasih itu healing, mengapa kebanyakan orang dikit-dikit healing???

B. PENGERTIAN GENERASI Z DAN SELF-HEALING
Generasi Z merupakan orang-orang yang lahir pada kurun waktu sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Generasi ini memiliki intensitas yang tinggi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka perlu dibekali dengan ketrampilan berpikir kritis, berpikir inovatif, pemecahan masalah dan interaksi sosial. Oleh karena itu, sekolah memiliki tanggungjawab dalam hal ini melalui kegiatan pembelajaran. Selain kegiatan pembelajaran, bimbingan dan konseling perkembangan bagi generasi Z sangat dibutuhkan. Layanan bimbingan dan konseling untuk generasi Z hendaknya menggunakan teknik dan media berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk menyampaikan pesan pada siswa.
Karakteristik gen Z sangat berbeda dengan generasi lain. Genz Z memiliki karakter yang menyukai teknologi, fleksibel, cerdas, dan menghargai perbedaan budaya. Karena gen Z tumbuh dan berkembang di era teknologi sehingga gen Z memiliki kencederungan untuk terhubung secara global dan berjejaring di media sosial. Tidak hanya itu saja gen Z tentu memiliki kekurangan, di mana gen Z memiliki karakter yang cenderung suka terhadap budaya yang instan dan tidak peka pada esensi privasi.
Healing sudah menjadi hal yang sangat sering didengarkan di generasi sekarang ini. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) healing diartikan sebagai penyembuhan. Namun ternyata sungguh tak sedikit orang yang belum paham apa itu Healing. Istilah Healing ini biasanya digunakan, untuk hal yang berkaitan dengan orang yang pernah mengalami perasaan sedih. Perasaan sedih disini maksudnya adalah seperti kelelahan emosial, kegagalan dalam suatu hal, kehilangan orang tersayang, sesuatu yang tidak diingikan terjadi dalam hidup hingga muncul masalah-masalah lain dan sebagainya. Istilah healing biasanya dikaitkan dengan self healing yang artinya sebuah proses untuk penyembuhan diri dari luka batin. Luka batin ini biasanya akan tak bisa diselesaikan berkat adanya sebagian orang yang pada umumnya berkaitan dengan kehadiran orang lain.
Lalu kaitan healing dengan GEN Z itu apasih??? Nahhh, jika melihat dari sosial media generasi milenial saat ini tentunya berkaitan erat, dimana metode heading menjadi solusi jika mendapatkan suatu kendala ataupun masalah. Namun kembali lagi ke pribadi masing apakah melakukan healing dengan memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan membentuk pikiran positif dari apa yang terjadi.
Self-healing merupakan salah satu metode yang cukup mendapatkan perhatian karena dianggap bisa membantu seseorang untuk mengendalikan emosi dan amarah (Chan dkk., 2013; Crane & Ward, 2016). Self-healing secara harfiah mengandung makna penyembuhan diri, karena kata healing sendiri diartikan sebagai “a process of cure”: suatu proses pengobatan/penyembuhan. Self-healing dimaksudkan sebagai suatu proses pengobatan atau penyembuhan yang dilakukan sendiri melalui proses keyakinannya sendiri dan juga didukung oleh lingkungan dan faktor eksternal penunjang (Crane & Ward, 2016). Self-healing sangat berkaitan dengan keyakinan karena konteks self atau diri menjadi elemen yang penting dalam memotivasi kepercayaan diri seseorang.
Istilah healing naik daun sekitar dua tahun terakhir, pemicunya karena edukasi terkait psikologi di sosial media secara massif. Istilah self-healing secara resmi diperkenalkan oleh Loyd Alexander, seorang psikolog dan terapis pengobatan komplementer dan Johnson seorang spesialis kanker pada tahun 2011 di Amerika Serikat. Self-healing merupakan salah satu terapi positif psikologi yang menargetkan pengelolaan dan pengendalian stres secara fisiologis
Saat ini tak jarang banyak anak muda yang mengharuskan healing untuk peningkatan kualitas kesehatan mentalnya dengan pergi ke tempat wisata. Padahal, tidak semua kondisi harus dilakukan dengan cara berkunjung ke tempat wisata. Biasanya memang ketika ke tempat wisata, staycation memiliki sensasi rileks dan nyaman. Tapi kembali pada terminologi kesehatan mental atau kesehatan pada umumnya, healing itu tidak hanya soal sensasi nyaman secara umum, tetapi konteksnya harus dikaitkan atau harus dihubungkan dengan persoalan apa atau konteks apa yang menimbulkan ketidaknyamanan.

C. METODE SELF-HEALING
Sebagian besar orang pernah mengalami kelelahan emosional dalam berbagai bentuk. Seperti sedih cemas terhadap masa depan, gagal meraih sesuatu, mengalami peristiwa yang tidak diinginkan, marah pada kesalahan diri sendiri, dan sebagainya. Sehingga saat ini healing ramai dilakukan oleh setiap orang tetapi apakah hal yang dilakukan sudah benar? jika tidak lalu, apa yang harus dilakukan? Siapa yang seharusnya menyembuhkan luka itu? Ada beberapa metode yang dapat dilakukan agar kita tidak melakukan hal yang keliru dalam mengartikan healing :
1. Me Time Masalah
yang belum selesai pada sebagian orang umumnya berkaitan dengan kehadiran orang lain. Me time ini berguna untuk membuat setiap orang memikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Bagaimanapun orang lain memperlakukannya, diri kita masih bisa memilih untuk bahagia. Saat seseorang terlalu sibuk memikirkan orang lain, terkadang ia lupa memikirkan diri sendiri. Meluangkan waktu untuk diri sendiri benarbenar akan membuat kita merasa lebih bermakna. Membuat kita merasa bahwa pusat dari segala kehidupan ini adalah diri sendiri. Orang lain hanyalah pelengkap kebahagiaan.
2. Berdialog dengan Diri Sendiri
Bicaralah pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya diinginkan. Jujur pada diri sendiri lebih baik ketimbang melampiaskan segala perasaan buruk kita pada sesuatu. Satu-satunya orang yang mampu berbicara dengan lubuk hati terdalam adalah diri sendiri. Saatnya mulai memahami diri sendiri untuk bisa bersyukur atas apa yang hidup ini berikan.
3. Berdamai dengan Keadaan
Mengingat kembali peristiwa-peristiwa buruk yang masih membekas di hati memang tak terhindarkan. Setiap orang berhak marah atas hal itu. Orang yang hatinya terluka sangat dalam tidak akan dengan mudah melupakannya Alangkah lebih bijaknya kita jika mencoba berdamai dengan keadaan. Menerima setiap keadaan yang menimpa kita ini sebagai guru kehidupan yang menempa pribadi kita lebih baik lagi
4. Mindfullness
Mindfulness adalah berpikir dengan kesadaran yang penuh. Mengelola pikiran, perasaan, dan lingkungan untuk menghubungkan titik-titik yang ada dalam pikiran kita. Memaknai setiap peristiwa dan kejadian yang pernah kita alami dengan lebih sehat.
Mindfulness dapat meningkatkan self compassion dan kebermaknaan hidup. Mindfulness bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mencari tempat yang sekiranya tenang, kemudian memejamkan mata. Fokus terhadap diri sendiri dan segala pikiran yang kita miliki. Dengan penuh kesadaran, cobalah untuk memahami setiap pergulatan emosi yang ada di dalam diri. Mindfulness ini akan lebih baik jika kita melakukannya secara rutin. Misal, satu sebelum berangkat ke kantor, kampus, sekolah, dan sebagainya.
5. Meningkatkan self-compassion
Self-Compassion adalah kemampuan untuk memahami keadaan emosi diri sendiri dan juga respon emosi atas penderitaan yang dialami dengnan disertai keinginan untuk menolong diri sendiri. Melalui self-compassion, seseorang dapat memahami dirinya sendiri.
Self-compassion mampu membuat orang memaknai pengalaman yang tidak nyaman dengan emosi yang berbeda. Artinya, ketidaknyamanan yang dimiliki seseorang dapat dimaknai secara positif jika meningkatkan self-compassion. Meningkatkan kepedulian terhadap diri sendiri, merespon peristiwa buruk dengan perasaan lapang dada, dan selalu berupaya membebaskan diri dari duka yg berlarut.
6. Jadikan penyesalan sebagai kekuatan
Sebagian orang pernah mengalami hal yang memalukan dalam hidupnya. Sebagian lain juga pernah berbuat kesalahan yang sudah disesalinya. Namun, tidak sedikit pula mereka yang menyesal tak ada habisnya, hingga menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Gelisah, cemas dan terus memikirkan hal tersebut membuat hati seseorang lelahTidak bisa dipungkiri bahwa kita sebagai manusia terkadang bisa menekan perasaan gelisah dan sesal itu. Kita bisa saja mengabaikan pikiran-pikiran yang mengganggu itu dengan menyibukkan diri. Namun, dengan mengabaikan perasaan itu justru akan membuat emosi kita makin lelah. Sebab, perasaan itu bisa muncul kapanpun Oleh karena itu, jadikanlah sebuah penyesalan terberat sekalipun di dalam hidup kita ini sebagai pelajaran. Boleh sesekali mengingat kejadian itu, tapi gunakanlah sudut pandang yang berbeda. Bicaralah pada diri sendiri bahwa melakukan kesalahan itu wajar. Yang perlu dilakukan hanyalah belajar untuk tidak mengulanginya.
7. Tempatkan Masa Lalu pada Tempatnya
Setiap orang punya kisah masa lalunya masing-masing. Tidak sedikit mereka memiliki masa lalu yang kelam hingga membuat masa kininya tidak tenang. Namun, kita tidak bisa mengubah peristiwa yang telah terjadi. Sebagai manusia, yang bisa dilakukan hanyalah mengubah respon kita terhadap masa lalu itu. Untuk itu, jadikanlah masa lalu sebagai guru yang mendewasakan.
Masa lalu hadir di masa kini bukan untuk terus disesali, tapi untuk dimaknai. Memaknai kembali pengalaman masa lalu dengan respon yang positif sangat membantu penyembuhan hati kita.
8. Menulis ekspresif
Menulis punya kekuatan untuk menyembuhkan diri kita dari dalam. Menulis ekspresif adalah menulis untuk mengutarakan segala perasaan yang dialami. Tidak perlu memperhatikan aturan seperti tanda baca, ejaan, dan sebagainya. Intinya, menulis ekspresif adalah sebuah upaya untuk mengungkapkan segala emosi yang dirasakan saat stress datang. Dengan menuliskan segala kekesalan itu dapat membantu kita untuk melihat masalah dari sudut pandang yang lain.
Setiap orang adalah penyembuh terbaik bagi dirinya sendiri. Setiap luka batin, masa lalu yang kelam, pengalaman pahit, kegagalan hidup hanyalah sebuah peristiwa. Setiap peristiwa bisa disikapi dengan bijaksana dan setiap luka yang membekas bisa disembuhkan. Oleh karenanya, lakukan lah hal yang benar sesuai dengan aturannya dan jangan terpengaruhi oleh tren menjadi diri sendiri maka kebahagiaan dan sehat mental akan selalu ada bersama dengan dirimu.

DAFTAR PUSTAKA

Hendri Gusmulyadi (2021). Apa Itu Healing? Simak Disini Arti Healing Atau Healing Atau Healing Artinya Apa. Tribun Pekanbaru.com. 4 Desember 2021.
Bachtiar & Faletehan. (2021). Self-Healing sebagai Metode Pengendalian Emosi. Jurnal An-Nafs. Vol 6 (1). Hal 41-54. Diakses pada 10 Mei 2022
Aeni Nur. (2022). Memahami Karakteristik dan Ciri-ciri Generasi Z. https://katadata.co.id/sitinuraeni/berita/6226d6df12cfc/memahami-karakteristik-danciri-ciri-generasi-z. Diakses pada 12 Mei 2022
Marbawani, G., & Hendrastomo, G. (2020). Pemaknaan Nongkrong bagi Mahasiswa Yogyakarta. DIMENSIA: Jurnal Kajian Sosiologi, 9(1), 1-16.
Anggraeni, N. S. (2021). ABDIMAS TOT SELF HEALING (BKD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *