ILMPI WILAYAH VI

JIKA SERING MERASA CEMAS, KAMU PERLU BACA INI !!

Menurut Manampiring (2018) dalam buku yang berjudul “Filosofi Teras”, Stoisisme, sekitar 300 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.300 tahun silam, Zeno, seorang pedagang kata dari Siprus melakukan perjalnan dari Phpenicia ke Peiraeus menggunakan kapal laut melewati Laut Mediterania. Namun, dalam perjalanannya, terjadi kemalangan yang begitu besar. Kapal yang digunakan Zeno tenggelam begitu juga dengan seluruh barang dagangannya. Hal tersebut membuatnya terdampar di Athena. Di Athena, Zeno kemudian mulai belajar dan juga akhirnya mengajar filsafat dan dari situlah filsafat stoisime lahir lalu dikembangkan oleh Seneca, Epictetus dan Marcus Aurelius dan sangat populer baik dikalangan budak maupun aristokrat. Meskipun diciptakan dan berkembangan di zaman yang berbeda, namun ajaran filsafat ini masih sangat relevan hingga saat ini.

Salah satu hal penting yang diajarkan oleh Filsafat Stoikisme adalah kita diajarkan cara untuk tetap tenang terutama saat berada di situasi sulit dan tak terduga. Prinsip dasar stoikisme adalah dikotomi kendali. Kita hanya bisa mengendalikan apa yang dalam kendali kita, yakni pikiran dan tindakan kita sendiri. Dengan kata lain, dalam pemikiran filsafat ini seyogianya bisa membuat kita sadar, bahwa apapun yang diluar dari pikiran dan tindakan kita adalah hal eksternal yang diluar kendali kita oleh karena itu, cara kita menghadapi hal eksternal ini adalah dengan mengendalikan persepsi kita terhadap hal tersebut. stoikisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari hal hal yang ada dibawah kendali kita. Oleh karena itu kita sering mendengarkan frasa, kebahagiaan itu berasal dari dalam diri. Dengan begitu, kita sadar untuk tidak menggantukan kebahagiaan kita pada hal yang berada diluar kendali kita, seperti opini orang terhadap kita, kondisi keluarga tempat kita terlahir, jenis kelamin dan ras kita, ataupun status dan popularitas kita. Manampiring (2018) dalam buku yang berjudul “Filosofi Teras”mengemukakan bahwa merasa bahagia dengan hal hal yang ada diluar kendali kita sama saja dengan menyerahkan kebahagiaan dan kedamaian hidup kita ke pihak orang lain. Meskipun begitu, aliran filsafat ini tidak membuat orang menjadi pasrah dengan keadaan. Melainkan membuat orang berusaha sekuat mungkin dengan apa yang dimilikinya dan merasa

Epictetus, salah satu filsuf Stoisisme, berkata, “Bukan suatu peristiwa yang membuat kita menderita, tetapi opini kita terhadap peristiwa tersebut.” Dalam ajaran stoisisme, tidak ada peristiwa atau kejadian yang baik atau buruk, melainkan interperetasi dan persepsi kita pada peristiwa tersebut yang melabelinya menjadi peristiwa baik ataupun buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *